Program Diversifikasi Pangan Mesti Dipercepat

Rabu, 08 Juni 2016

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) memperingatkan tingkat konsumsi bahan pokok beras terus mengalami tren peningkatan seiring dengan peningkatan jumlah populasi tetapi jumlah lahan pertanian berkurang. Jika tak segera diantisipasi, situasi tersebut dikhawatirkan memicu krisis pangan di Indonesia. 

Karenananya, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementan mengusulkan agar upaya diversifikasi pangan secepatnya dilakukan. Langkah tersebut dinilai sangat efektif untuk mengurangi permintaan terhadap beras yang terus meningkat setiap tahun. 

Kepala Balitbang Kementan, Muhammad Syakir mengatakan, mengatakan pihaknya akan terus menggalakkan program diversifikasi pangan untuk mengurangi tingginya permintaan beras masyarakat. “Ini penting dilakukan, apalagi di Indonesia sangat cocok karena sebagian daerah memiliki bahan pokok lain untuk dikonsumsi. Tidak bergantung pada beras,” ungkapnya dalam konferensi persnya di Jakarta pada Selasa (7/6).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 242,3 juta jiwa. Diperkirakan, pada 2025, jumlah itu membengkak hingga 273,1 juta jiwa. Jika diasumsikan laju pertumbuhan penduduk setelah 2025 rata-rata mencapai 1 persen, maka pada 2050 penduduk Indonesia akan mencapai lebih dari 340 juta jiwa.

Apabila mengacu pada kalkulasi ini, krisis pangan tidak terhindarkan. Untuk itu, diversifikasi pangan menjadi alternatif yang perlu diambil, terlebih saat ini kebutuhan semakin sulit diimbangi dengan produksi.

Seperti diketahui, pada Oktober mendatang akan digelar Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) di Boyolali, Jawa Tengah. Rencananya, saat itu pula Kementan mempromosikan teknologi terbarunya Jajar Legowo Super atau jarwo super dan jagung hibrida tongkol 2 prolifik. Khusus untuk Jajar Legowo Super mampu meningkatkan hasil pertanian dari hanya sekitar enam ton menjadi 12 ton gabah kering giling (GKG) atau 14 ton gabah kering panen (GKP) per hektarnya.

Saat ini pemerintah terus mempercepat upaya meningkatkan produksi hasil pertanian, termasuk melalui pengembangan inovasi dan teknologi pertanian termasuk kedua temuan baru tadi. Selain untuk mempercepat tercapainya program swasembada pangan, peningkatan produksi yang dihasilkan oleh teknologi Jarwo Super juga bertujuan untuk mengimbangi permintaan terhadap beras, sehingga di samping diversifikasi digalakan, produktivitas juga dipacu.

Terus Berkontribusi

Di kesempatan sama, Balitbang Kementan juga memperkenalkan logo baru untuk digunakan pada pelaksanaan HPS nanti. Rencananya logo itu akan dipermanenkan, soalnya selama ini logonya selalu berubah setiap kali HPS digelar.

Menurut Syakir, logo tersebut mengandung makna yang substansial tentang simbol pangan. “Logo itu memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia dapat berpartisipasi untuk terlibat dalam menyiapkan ketersediaan pangan bagi dunia,”pungkasnya. ers/E-10

(Sumber : http://www.koran-jakarta.com)

Komentar

Berita Terbaru

Penutupan Hari Pangan Sedunia ke-38, Pemerintah Siap Kawal Optimalisasi Lahan Rawa

Banjar Baru - Penutupan acara peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 tahun 2018, dilaksanakan di  Halaman Kantor Sekretaris…


Presiden Jokowi Bakal Canangkan Optimalisasi Lahan Rawa untuk Produksi Pangan di HPS 2018

Jakarta – Presiden Joko Widodo direncanakan bakal hadiri perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 tahun 2018 di Kalimantan…


Wujudkan Ketahanan Pangan, HPS Ke 38 Maksimalkan Lahan Rawa di Kalsel

Banjarmasin - Puncak Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 akan diselenggarakan di Kalimantan Selatan pada 18-21 Oktober…