Konsumsi Gandum di Indonesia Terus Meningkat

Senin, 26 September 2016

Gandum merupakan bahan pangan sereal yang jumlahnya terbesar dalam penyediaan pangan pokok warga dunia. Kelebihan gandum dibanding sereal lainnya sebagai bahan pangan adalah dapat diolah menjadi banyak jenis makanan yang lebih tahan simpan dibandingkan dengan pangan dari beras.

Kandungan gluten pada gandum memungkinkan pangan dari komoditas ini bersifat kenyal, dan mengembang bila dipanaskan. Dalam kehidupan modern, pangan berbahan gandum mendominasi pasar swalayan, karena mudah diawetkan dalam bentuk roti, cake, biskuit, cookies, mie instan, dan lainnya.

Sekitar 100 juta ton biji gandum masuk ke pasar internasional setiap tahunnya, dimana Indonesia mengimpor sekitar 7 juta ton per tahun, atau 7% dari stok gandum di pasar internasional. Besarnya impor gandum di Indonesia sering menimbulkan pertanyaan, mungkinkah gandum diproduksi di dalam negeri, guna mengurangi impor.

Menurut FAO (2015) produksi gandum dunia setiap tahun mencapai 800 juta ton hingga 855 juta.

Negara pengekspor gandum terbesar di dunia adalah Amerika Serikat (24,67%), Australia (14,95%), Canada (14,51%), Negara Uni Eropa (13,15%), Argentina (6,35%), dan negara-negara produsen gandum lainnya (26,38%).

Pada setiap akhir tahun selalu tersedia stok sisa gandum sekitar 7-14 juta ton, guna mengisi pasar internasional tahun berikutnya. Hal ini menyebabkan hampir tidak pernah terjadi kekurangan stok gandum di pasar dunia.

Konsumsi gandum di Indonesia terus meningkat sejalan dengan tumbuhnya konsumsi mie instan, roti, biskuit dan cookies.

Hampir 95% makanan berbahan baku tepung terigu sebenarnya adalah jenis makanan “introduksi”, bukan makanan asli Indonesia.

Pola makan bangsa Indonesia yang terkait dengan terigu (gandum), nampaknya dibentuk oleh kampanye lewat iklan yang sangat gencar dan oleh penyediaan produk “siap saji secara mudah” di seluruh pelosok negara.

Gandum atau terigu, yang masuk ke Indonesia pada tahun 1950-an sebagai bantuan pangan secara gratis lewat program bantuan PL-480, kini telah berubah menjadi kebutuhan pokok “wajib” yang harus diimpor dari pasar internasional dengan harga mahal. SMN/MJM

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan

Komentar

Berita Terbaru

Penutupan Hari Pangan Sedunia ke-38, Pemerintah Siap Kawal Optimalisasi Lahan Rawa

Banjar Baru - Penutupan acara peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 tahun 2018, dilaksanakan di  Halaman Kantor Sekretaris…


Presiden Jokowi Bakal Canangkan Optimalisasi Lahan Rawa untuk Produksi Pangan di HPS 2018

Jakarta – Presiden Joko Widodo direncanakan bakal hadiri perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 tahun 2018 di Kalimantan…


Wujudkan Ketahanan Pangan, HPS Ke 38 Maksimalkan Lahan Rawa di Kalsel

Banjarmasin - Puncak Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 akan diselenggarakan di Kalimantan Selatan pada 18-21 Oktober…